Jajanan Pembawa Musibah
Wanita
muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar. Busa di mulutnya masih saja
keluar begitu aku dan temanku datang
menjemputnya untuk mengunjungi objek wisata di Kabupaten Magelang. Ya,
kami memang sudah merencanakan hal ini semalam dan aku bersama Dean memutuskan
untuk menjemput Rina karena rumahku dan Dean berdekatan. Selama kurun waktu 3
tahun ini ia memang tinggal sendiri, orang tuanya berada di Sumatera. Ia
memustuskan untuk tinggal di Magelang karena ingin sekolah di Kota ini dan
menempati salah satu kos di daerah Mertoyudan.
Sekitar
pukul 10.00 WIB kami sampai di kos-kosan Rina. Sontak aku dan Dean terkejut dan
lidah ini kelu untuk mengatakan sesutau, karena pandangan kami tertuju pada
sudut kamar Rina karena pintu terbuka seperti habis kerampokan . “Sepertinya
Rina habis diracuni oleh seseorang”, ujar Dean tanpa menatapku. “Sekarang gini,
aku masuk ke dalam sedangkan kamu keluar cari bantuan!”, jawabku dengan tegas.
Dean kemudian berlari menemui Ibu kos dan
melaporkan kejadian tersebut.
Tak
berapa lama kemudian ada beberapa orang datang menghampiri aku dan Rina, di situ
aku menangis tak karuan sambil memaksa-maksa Rina bangun namun tak kunjung ada
jawaban. Tanpa berpikir panjang orang-orang langsung membawa Rina keluar dan
menuju ke mobil ambulans yang sudah datang begitu kami sampai di depan
kos-kosan. Didalam mobil ambulans aku dan Dean tak kuasa menahan tangis karena
kami tak menyangka kejadian itu menimpa Rina sahabat kami.
Kami
tiba di salah satu rumah sakit di Magelang dan Rina langsung di bawa untuk diperiksa lebih lanjut. Sembari
kami menunggu dokter memeriksa Rina, ibu kos meminta kami untuk menghubungi
keluarga dekan Rina yang ada di Magelang. Namun sayangnya kami berdua tidak
tahu siapa kerabat dekat Rina.
Setelah
aku dan Rina melaksanakan salat zuhur kami langsung menuju ke ruangan tempat
pemeriksaan Rina. Beberapa menit kemudian dokter keluar dan memberitahukan kami
bahwa Rina sudah sadar, dokter pun mengizinkan kami untuk menengok Rina. Dokter
menjelaskan bahwa Rina keracunan bukan diracuni. Aku dan Dean mengangguk begitu
mendengarkan penjelasan dokter, karena kami berpikir kalau Rina diracuni. “Iya
Fi, De aku tu nggak diracuni tapi tadi aku jajan makanan di deket kos-kosan kan
trus habis aku makan nggak tau kenapa perutku sakit dan aku nggak tau kalo aku
langsung pingsan”, jelas Rina kepada kami. “Allhamdulillah Rin kamu udah sadar
dan nggak kenapa-kenapa” jawabku sambil tersenyum.
Sehari
kemudian setelah Rina kembali ke kos-kosan aku dan Dean datang untuk menjenguk
Rina. Rina tampaknya sudah sehat dan sudah dapat melaksanakan aktivitas seperti
biasa. Rina meminta maaf kepada aku dan Dean karena dengan adanya kejadian
waktu itu menyebabkan rencana liburan ke Candi Borobudur batal. Namun hal
tersebut bukan masalah besar bagi kami, kami langsung berpelukan karena
kejadian waktu itu akan kami jadikan pengalaman agar kita tidak lagi jajan sembarangan.
“Yang penting kita masih sama-sama” ujar kami bersamaan.
Setelah kejadian tersebut kedua
orang tua Rina lantas mengunjunginya di Magelang. Pada saat itu kebetulan aku
dan Dean sedang ada di kos-kosan Rina. Kami menyambut kedatangan mereka dengan
senang dan penuh antusias. Kerinduan Rina pun terpecahkan, sontak ayah, ibu,
dan anak itu berpelukan sambil diselingi rasa haru dengan mata berkaca-kaca. Aku
senang melihat kebahagiaan mereka, begitu hangat dan harmonis.
Tanpa berlama-lama kedua orang tuanya
pun langsung mengajukan beberapa pertanyaan seputar kejadian yang dialami
anaknya beberapa waktu yang lalu. Dengan wajah serius Rina menjelaskan secara
detail kronologis kejadiaanya. Ayah ibunya berpesan kepada Rina agar lebih
berhati-hati lagi, mereka tidak memarahi Rina, namun mereka menganggap ini
adalah pengalaman bagi hidup anaknya.
Aku mendengar bahwa kedua orang tua
Rina hanya 3 hari berada di Magelang, hal ini bukan tanpa alasan melainkan karena
tanggung jawab pekerjaan. Di hari keberangkatan orang tua Rina, aku dan Dean memutuskan untuk datang
dan menemani Rina untuk mengantar kedua orang tuanya ke bandara. Setelah itu kami memutuskan untuk mampir ke
kedai ice cream di Jogja. Aku sangat merasakan kehangatan persahabatan
diantara aku, Dean, dan Rina. Kami saling bertukar cerita masing-masing, tak
lupa kadang kami juga menceritakan tentang cinta, anak muda memang identik
dengan cinta, namun kami mengangkap hal itu wajar karena kami sedang dalam masa
pertumbuhan.
Sesampainya di kos-kosan Rina, aku
dan Dean berpamitan untuk pulang kerumah masing-masing. Senyuman Rina yang
manis mengakhiri perjumpaan kita hari ini. Aku bersyukur mempunyai sahabat yang
baik dan saling mengerti satu sama lain. Semoga persahabatan ini selalu terjaga
hingga akhir hayat kami. Aamiin.
~selesai~