Kamis, 29 Desember 2016

PERBAIKAN TUGAS UJIAN PRAKTIK BAHASA INDONESIA (CERPEN)




Jajanan Pembawa Musibah

Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar. Busa di mulutnya masih saja keluar begitu aku dan temanku datang  menjemputnya untuk mengunjungi objek wisata di Kabupaten Magelang. Ya, kami memang sudah merencanakan hal ini semalam dan aku bersama Dean memutuskan untuk menjemput Rina karena rumahku dan Dean berdekatan. Selama kurun waktu 3 tahun ini ia memang tinggal sendiri, orang tuanya berada di Sumatera. Ia memustuskan untuk tinggal di Magelang karena ingin sekolah di Kota ini dan menempati salah satu kos di daerah Mertoyudan.

Sekitar pukul 10.00 WIB kami sampai di kos-kosan Rina. Sontak aku dan Dean terkejut dan lidah ini kelu untuk mengatakan sesutau, karena pandangan kami tertuju pada sudut kamar Rina karena pintu terbuka seperti habis kerampokan . “Sepertinya Rina habis diracuni oleh seseorang”, ujar Dean tanpa menatapku. “Sekarang gini, aku masuk ke dalam sedangkan kamu keluar cari bantuan!”, jawabku dengan tegas. Dean kemudian berlari  menemui Ibu kos dan melaporkan kejadian tersebut.

Tak berapa lama kemudian ada beberapa orang datang menghampiri aku dan Rina, di situ aku menangis tak karuan sambil memaksa-maksa Rina bangun namun tak kunjung ada jawaban. Tanpa berpikir panjang orang-orang langsung membawa Rina keluar dan menuju ke mobil ambulans yang sudah datang begitu kami sampai di depan kos-kosan. Didalam mobil ambulans aku dan Dean tak kuasa menahan tangis karena kami tak menyangka kejadian itu menimpa Rina sahabat kami.

Kami tiba di salah satu rumah sakit di Magelang dan Rina langsung di  bawa untuk diperiksa lebih lanjut. Sembari kami menunggu dokter memeriksa Rina, ibu kos meminta kami untuk menghubungi keluarga dekan Rina yang ada di Magelang. Namun sayangnya kami berdua tidak tahu siapa kerabat dekat Rina.

Setelah aku dan Rina melaksanakan salat zuhur kami langsung menuju ke ruangan tempat pemeriksaan Rina. Beberapa menit kemudian dokter keluar dan memberitahukan kami bahwa Rina sudah sadar, dokter pun mengizinkan kami untuk menengok Rina. Dokter menjelaskan bahwa Rina keracunan bukan diracuni. Aku dan Dean mengangguk begitu mendengarkan penjelasan dokter, karena kami berpikir kalau Rina diracuni. “Iya Fi, De aku tu nggak diracuni tapi tadi aku jajan makanan di deket kos-kosan kan trus habis aku makan nggak tau kenapa perutku sakit dan aku nggak tau kalo aku langsung pingsan”, jelas Rina kepada kami. “Allhamdulillah Rin kamu udah sadar dan nggak kenapa-kenapa” jawabku sambil tersenyum.

Sehari kemudian setelah Rina kembali ke kos-kosan aku dan Dean datang untuk menjenguk Rina. Rina tampaknya sudah sehat dan sudah dapat melaksanakan aktivitas seperti biasa. Rina meminta maaf kepada aku dan Dean karena dengan adanya kejadian waktu itu menyebabkan rencana liburan ke Candi Borobudur batal. Namun hal tersebut bukan masalah besar bagi kami, kami langsung berpelukan karena kejadian waktu itu akan kami jadikan pengalaman agar kita tidak lagi jajan sembarangan. “Yang penting kita masih sama-sama” ujar kami bersamaan.

            Setelah kejadian tersebut kedua orang tua Rina lantas mengunjunginya di Magelang. Pada saat itu kebetulan aku dan Dean sedang ada di kos-kosan Rina. Kami menyambut kedatangan mereka dengan senang dan penuh antusias. Kerinduan Rina pun terpecahkan, sontak ayah, ibu, dan anak itu berpelukan sambil diselingi rasa haru dengan mata berkaca-kaca. Aku senang melihat kebahagiaan mereka, begitu hangat dan harmonis.

            Tanpa berlama-lama kedua orang tuanya pun langsung mengajukan beberapa pertanyaan seputar kejadian yang dialami anaknya beberapa waktu yang lalu. Dengan wajah serius Rina menjelaskan secara detail kronologis kejadiaanya. Ayah ibunya berpesan kepada Rina agar lebih berhati-hati lagi, mereka tidak memarahi Rina, namun mereka menganggap ini adalah pengalaman bagi hidup anaknya.

            Aku mendengar bahwa kedua orang tua Rina hanya 3 hari berada di Magelang, hal ini bukan tanpa alasan melainkan karena tanggung jawab pekerjaan. Di hari keberangkatan orang  tua Rina, aku dan Dean memutuskan untuk datang dan menemani Rina untuk mengantar kedua orang tuanya ke bandara.  Setelah itu kami memutuskan untuk mampir ke kedai ice cream di Jogja. Aku sangat merasakan kehangatan persahabatan diantara aku, Dean, dan Rina. Kami saling bertukar cerita masing-masing, tak lupa kadang kami juga menceritakan tentang cinta, anak muda memang identik dengan cinta, namun kami mengangkap hal itu wajar karena kami sedang dalam masa pertumbuhan.

            Sesampainya di kos-kosan Rina, aku dan Dean berpamitan untuk pulang kerumah masing-masing. Senyuman Rina yang manis mengakhiri perjumpaan kita hari ini. Aku bersyukur mempunyai sahabat yang baik dan saling mengerti satu sama lain. Semoga persahabatan ini selalu terjaga hingga akhir hayat kami. Aamiin.

~selesai~

2 komentar:

  1. Ya, terima kasih. Tanda baca untuk penulisan dialog masih belum benar. Koma dulu baru tanda petik. Hindari kalimat panjang-panjang. Coba perhatikan pembetulan berikut!

    Tak berapa lama kemudian ada beberapa orang datang menghampiri aku dan Rina. Di situ aku menangis tak karuan sambil memaksa-maksa Rina bangun, namun tak kunjung ada jawaban. Tanpa berpikir panjang orang-orang langsung membawa Rina keluar dan menuju ke mobil ambulans yang sudah datang begitu kami sampai di depan kos-kosan. Di dalam mobil ambulans aku dan Dean tak kuasa menahan tangis karena kami tak menyangka kejadian itu menimpa Rina, sahabat kami.

    Kami tiba di salah satu rumah sakit di Magelang. Rina langsung dibawa untuk diperiksa lebih lanjut. Sembari kami menunggu dokter memeriksa Rina, ibu kos meminta kami untuk menghubungi keluarga dekan Rina yang ada di Magelang. Namun, sayangnya kami berdua tidak tahu siapa kerabat dekat Rina.

    Setelah aku dan Rina melaksanakan salat zuhur kami langsung menuju ke ruangan tempat pemeriksaan Rina. Beberapa menit kemudian dokter keluar dan memberitahukan kami bahwa Rina sudah sadar. Dokter pun mengizinkan kami untuk menengok Rina. Dokter menjelaskan bahwa Rina keracunan, tidak diracuni. Aku dan Dean mengangguk begitu mendengarkan penjelasan dokter karena kami berpikir kalau Rina diracuni. “Iya Fi, De aku tu nggak diracuni tapi tadi aku jajan makanan di deket kos-kosan kan trus habis aku makan nggak tau kenapa perutku sakit dan aku nggak tau kalo aku langsung pingsan, ” jelas Rina kepada kami.
    “Allhamdulillah, Rin kamu udah sadar dan nggak kenapa-kenapa, ” jawabku sambil tersenyum.

    BalasHapus